HOME

BERITA

WAWANCARA

FEATURE

ARTIKEL

KAMI


Leput412

Sastra Minahasa

Sejarah Minahasa

Potret Minahasa


Minggu, 30 Agustus 2009

Etalase

“Yang Lain”

Film Front of The Class, bercerita tentang seorang laki-laki, yang sejak umur 6 tahun menderita tourette syndrome. Sindrom ini adalah salah satu penyakit akibat kelainan pada saraf. Brad Cohen, begitu namanya. Ia, ketika masih di sekolah dasar banyak mengalami diskriminasi, baik dari gurunya, maupun teman-teman sekelasnya. Betapa tidak, selagi sekelas serius belajar, Cohen mengeluarkan suara-suara aneh. Kepalanya juga ikutan bergerak. Suara-suara aneh ditambah dengan gerakan-gerakan leher Cohen, membuat teman-temannya tertawa. Kelas menjadi ribut. Guru yang berada di depan kelas tak merasa senang. Selanjutnya

================================================
Mencurigai Lembaga Agama

Beragama dalam lembaga agama akhirnya menjadi pilihan hidup kebanyakan manusia di planet bumi ini. Beragama adalah kegiatan untuk mengikatkan diri dengan kepercayaan yang penuh kepada yang trasendental. Beragama awalnya adalah kegiatan yang mempribadi sebagai sebuah sistem kepercayaan kepada Sang Khalik. Tapi karena ada kepentingan untuk melanggengkan pesan, tradisi dan doktrin dari pendiri atau yang memberi inspirasi lahirnya agama itu maka kemudian agama akhirnya melembaga. Agama sebagai lembaga (yang di dalamnya ada struktur, hirarkis dan juga kekuaasaan) kemudian menjadi urusan publik karena itu ia adalah salah satu intitusi sosial. Selanjutnya

================================================
Hari-hari Terakhir Bersama Rakyat

Kini, mereka-mereka yang mengumbar janji kepada rakyat semasa kampanye, dan telah menang Pemilu 9 April 2009 lalu, telah memasuki hari-hari terakhir bersama rakyat. Selama kurang lebih setengah tahun, mereka-mereka, para caleg itu, setiap hari bersama rakyat: bersosialisasi, menjual janji dan komitmen. Setelah rapat pleno di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) selesai, nama-nama pemenang Pemilu sudah diketahui oleh publik. Meski memang, kekrisruan Pemilu belum selesai diatasi oleh pemerintah dan KPU, tapi mereka-mereka yang telah memperoleh suara terbanyak, dan secara de facto telah menjadi anggota dewan sudah mulai membayangi enaknya menjadi anggota dewan. Kalau tidak ada bayangan seperti itu, mana mungkin banyak orang bersusah-susah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dalam Pemilu baru lewat itu. Selanjutnya

================================================
Demokrasi Mendekati Ajal

Banyak orang yang protes ketika namanya tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Banyak caleg yang melakukan serangan fajar dan money politics. Banyak yang khawatir, bahwa konsekuensi dari suara terbanyak adalah tersingkirnya politisi-politisi kawakan, dan kemudian memunculkan politisi-politisi instant, seperti selebiritis, anak politisi, dan pengusaha. Media kemudian menyimpulkan semua itu dengan istilah “Kekisruan Pemilu 2009.” Selanjutnya

================================================
Janji

Kata banyak orang, janji adalah hutang. Itu kata banyak orang. Tapi, untuk sedikit orang, ya, mereka yang berkepentingan dengan kursi kekuasaan, janji adalah ucapan manis untuk menarik simpati dan dukungan. Barangkali, janji di podium kampanye hampir sama dengan janji seorang pria atau perempuan pendusta kepada kekasihnya. Janji bulan madu di Bali, eh, ternyata bulan madunya di rumah menantu. Janji untuk setia sehidup semati, eh, cuma karena uang setumpuk langsung berpaling. Begitu juga janji seorang Roy Marten atau Fariz RM untuk tidak lagi menggunakan shabu. Janji mereka memang harus diragukan. Belajar dari pengalaman, bagi mereka janji kadang tinggal janji. Tapi, janji seorang miskin untuk segera melunasi hutangya kepada rentenir yang datang menagih, saya pikir tidak sama dengan janji politikus atau seorang kekasih atau juga seorang pecandu. Janji seorang miskin kepada rentenir, bukan hutang, tapi memang sedang berusaha melunasi hutang. Hutang karena keterdesakan ekonomi. Selanjutnya